Oleh: Efriza
Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP)
MENYEBUT nama Joko Widodo (Jokowi) adalah ‘produk’ dari otonomi daerah. Jokowi adalah pemimpin yang tumbuh dari bawah karena kapabilitas dan kompetensi yang sukses dibuktikannya di Solo dan Jakarta, inilah kekuatan dukungan elektoral yang dimilikinya.
Namun, pemerintahan tak cukup hanya dari electoral support semata, political support juga dibutuhkan.
Realitas membuktikan Presiden Jokowi harus mengabaikan koalisi ramping dan koalisi tanpa syarat. Presiden Jokowi pernah mencoba bersikukuh tak memperluas koalisi, dengan hanya 36,96 persen pendukungnya kala itu.
