Adanya partai politik adalah hal yang benar dalam demokrasi. Sistem Multipartai juga pilihan, bukan sebuah kesalahan. Namun, partai politik di Indonesia sedang mengalami gejala ‘sakit.’ Partai-partai sedang melembagakan perilaku nomadisme partai (Yasraf Amir Piliang, 2005).
Nomadisme memang sebuah strategi politik. Tetapi nomadisme politik adalah ironi politik, menggiring pada bentuk absurditas politik. Nomadisme hidup di dalam semacam ruang petualangan politik (nomad political space), yang didalamnya baik diri (lembaga), simbol, identitas, dan ideologi menjadi semacam pakaian yang dengan mudah ditukar.
Baca juga: Kejutan Kecil tapi Bermakna di Pemilihan Serentak 2020
Identitas dapat ditukar dengan sebuah kekuasaan, bahkan keyakinan (politik, agama, kultur) dapat ditukar dengan sebuah kursi atau jabatan. Keyakinan dan ideologi hanya sebuah alat atau tempat persinggahan saja untuk merealisasikan kepentingan dari partai politik tersebut, bukan kepentingan bangsa (Yasraf Amir Piliang, 2005).
Wajar akhirnya, politik di Indonesia bahwasanya partai politik mudah berganti “baju” dalam dukungan koalisinya, dari koalisi oposisi menjadi koalisi pendukung pemerintah, dan dari koalisi pendukung pemerintah tetap bermanuver layaknya oposisi meski menggunakan nama yang terkesan loyal yakni mitra kritis.
