Kasus Edy Mulyadi yang dianggap melakukan ujaran kebencian dan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Telah menyulut kemarahan warga Kalimantan. Kuasa hukum Edy berargumen, kliennya tak menyebut nama daerah dan kasus ini ada kepentingan politik. Kasus ini mendera PKS, partai menyadari akan terdampak dari kasus komunikasi buruk Edy.
Buru-buru PKS mengkonfirmasi, Edy sempat menjadi calon legislatif (Caleg) PKS, lalu dinyatakan bahwa Edy tak mewakili suara partai, Edy bukan pejabat stuktural, bahkan PKS menyatakan sikap resmi PKS disampaikan di Fraksi PKS di Senayan terkait penolakan Ibu Kota Negara (IKN).
Meski PKS begitu cepat melepaskan identitas keterkaitan dengan Edy. Namun, dari kasus Edy bukan saja tentang ujaran kebencian dan SARA terhadap suatu daerah semata, tetapi turut menghadirkan kegaduhan politik dengan Edy mengeluarkan pernyataan yang menyulut emosi Partai Gerindra.
Gara-gara komunikasi buruk “kader” PKS yang sudah tak diakuinya lagi, menimbulkan gesekan terhadap Gerindra. Hubungan PKS dan Gerindra meski telah berbeda dalam lingkaran kekuasaan, tetapi cenderung harmonis karena keduanya pendukung Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang terpilih di Pilkada DKI Jakarta 2017 silam.
Kasus Edy juga membuka tabir bahwa PKS tak lagi bisa menertibkan kadernya dalam berkomunikasi dengan lisan maupun media sosial. Anggota DPR yang juga politisi senior PKS, Tifatul Sembiring malah membela Edy. Akhirnya Tifatul Sembiring diingatkan oleh Anaknya melalui media sosial, dengan menulis mengingatkan, “Mingkem gitu Beh, mingkem!...” diakhiri dengan kata memungkasi tulis detik.com, “Koplak!” (detik.com, 27 Januari 2022).
