Momentum sebagai pemimpin barisan oposisi juga tak bisa dijalankan PKS. Saat, peran itu ditinggalkan oleh Gerindra dengan bergabung dalam pemerintah. PKS tak bisa seperti Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan waktu memimpin oposisi, bahkan merangkul Partai Gerindra dengan cenderung harmonis.
Disinyalir, kasus 2009 lalu, menyebabkan Partai Demokrat tak nyaman berkoalisi dalam oposisi dengan PKS. Anggapan membekas adalah PKS adalah kawan yang tak sepakat, Kasus Angket Century realitasnya. PKS pendukung pemerintahan Partai Demokrat, tetapi kerap mengkritik pemerintah bersama PDI Perjuangan.
Kasus lainnya, menuju Pilkada 2017 dan Pilpres 2019 lalu, menunjukkan apa yang menjadi keinginan Partai Demokrat tak bisa disinergikan dengan PKS. Kedua partai ini cenderung kurang cocok dalam membangun kerjasama.
PKS juga tak bisa menampilkan kader-kader terpilihnya sebagai komunikator politik yang baik. Jumlah Kader Anggota DPR yang terpilih sebanyak 50 kursi, tetapi sangat disayangkan suara kader-kadernya semestinya berperan sebagai oposisi malah tenggelam.
Media lebih asyik bertanya pada juru bicara PKS yang berjumlah lumayan sebanyak 10 orang dibandingkan kader-kader PKS di Senayan. Bahkan, juru bicara PKS yang sebelumnya berasal dari anggota DPR, malah dipinggirkan.
