Tetapi hasilnya adalah pemilih tradisional tak begitu terpengaruh, juga menunjukkan demarkasi yang jelas dengan isu-isu yang dibawa PKS meniru gaya kaum Islam tradisional. Masa pemilih tradisional sudah terwakili dalam wadah NU, malah kini NU turut tegas dalam melindungi warga Nahdiyin terkait kepentingan politik. Upaya memperluas ceruk PKS, tak bisa maksimal.

Harapan yang tetap dipelihara oleh PKS adalah kelompok pemilih dipersepsikan Islam Kanan. Tetapi PKS juga mengalami dilematis, kasus-kasus intoleran, ujaran kebencian dan SARA, acap dikaitkan dengan kelompok ini, malah membuat blunder. Kalangan ini memang oposan “garis keras” terhadap pemerintah. Malah, pemerintah sudah menandai dan membatasi ruang gerak mereka, sehingga tentu ceruk ini semakin tipis.

Jika digambarkan dalam persepsi kepuasan kepada pemerintah dengan maksimal sebesar 75 persen. Ceruk oposisi dari pemerintah yang “garis keras”sebesar 25-30 persen. Ini diperebutkan oleh PKS, Partai Gelora, dan Partai Ummat.

Dua partai baru ini memiliki tokoh dan/atau para pemain seperti Anis Matta dan Fahri Hamzah dari Partai Gelora adalah mantan pejabat stuktural PKS, kemudian Amien Rais dari Partai Ummat sebelumnya ikon PAN. Isu politik “demagogi,” kebangkitan Islam dan/atau kalangan Islam kanan pada Pemilu 2019 lalu, turut dimainkan oleh tokoh-tokoh tersebut.

Tak Bisa Menjadi Magnet Politik dalam Koalisi