Meski PDI Perjuangan sebagai oposisi, ia begitu cerdas sebagai pemimpin koalisi. PDI Perjuangan mendorong isu-isu baru dalam membangun koalisi. Seperti pembantu presiden tak boleh rangkap jabatan, pembentukan kabinet bukan model bagi-bagi kursi.

Koalisi yang dipimpin oleh PDI Perjuangan berhasil menumbangkan Partai Demokrat hingga hanya dua periode. Meski juga diikuti peristiwa “tsunami politik” dengan banyaknya kader Demokrat tersangkut kasus korupsi dinilai masyarakat tak sesuai dengan identitas disampaikan sebagai partai anti korupsi berupa “katakan tidak pada korupsi.”

PDI Perjuangan saat ini memiliki kans untuk sampai tiga periode. Kelanjutan pemerintahan dapat terjadi jika tak ada peristiwa “tsunami politik.” PKS berusaha menjadi magnet politik dalam koalisi dengan menawarkan poros Islam, ternyata tak disambut baik oleh PAN, PKB, dan PPP.

Mereka menyadari “jebakan batman,” ceruk mereka yang diincar, bahkan argumentasi sederhana, masa iya partai kecil akan pemimpin koalisi poros Islam. Akhirnya, PKS mendorong isu koalisi Nasionalis, malah yang menyambut adalah Golkar, artinya PKS rawan dikendalikan Golkar.

Sedangkan, isu poros Islam, digerakkan oleh Partai Bulan Bintang (PBB), disambut baik oleh PAN dan PPP. Ini menunjukkan PKS sebagai oposisi tidak menarik, tak bisa menjadi magnet, padahal PKS peraih suara lima besar.