Di sisi lain, ketiga ketua umum ini juga sedang berupaya mencari perlindungan politik kepada istana di balik dukungan wacana itu. Sebab, ketiga ketua umum ini, masih belum dapat menjadi personalisasi politik dari partainya masing-masing. Kerapuhan diri secara internal, kekhawatiran posisinya terancam, sedang menyelimuti hati dari ketiga ketua umum partai ini.
PAN misalnya sedang mengalami posisi konflik internal meski ikon partainya Amien Rais telah memilih mendirikan partai baru. Tetapi pengelolaan partai yang buruk dari Zulkifli Hasan akan membuka konflik kembali.
Begitu juga Cak Imin dengan PKB, ia dalam kekhawatiran karena kebangkitan loyalis Gus Dur. Apalagi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginginkan warga nahdliyin untuk lebih menyebar dalam memilih partai dan pasangan calon presiden/wakil presiden.
Sedangkan Airlangga Hartarto selain dilanda elektabilitas yang rendah sebagai calon presiden juga diterpa isu perselingkuhan. Jangan melupakan faksi-faksi di Golkar yang bisa setiap waktu menggoyang keputusan Partai Golkar mengajukan dirinya selaku Ketua Umum Golkar sebagai calon presiden.
Apalagi melihat kenaikan elektabilitas dari Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta dibandingkan Airlangga, disertai dengan popularitas dari personal brandingnya yang lebih kuat memikat hati publik dibandingkan Airlangga, cukup membuat gundah gulana Airlangga Hartarto.
