Oleh sebab itu, Presiden Prabowo tidak diragukan akan terus dapat memperoleh persepsi positif dari masyarakat akan kepuasan terhadap kinerja presiden. Sebab, ketika menterinya ‘offside’ dan presiden tentu saja akan menegurnya, bahkan membatalkan keputusannya. Seolah, Presiden Prabowo sosok ‘pahlawan’ masyarakat yang selalu hadir menyelesaikan masalah dari perilaku para menterinya yang tidak berpihak kepada masyarakat.
Padahal semestinya, jika mikromanajer Presiden Prabowo efektif, maka keputusan para menteri-menterinya cenderung tidak berpolemik di masyarakat, dan Presiden Prabowo tidak perlu repot-repot turun tangan untuk menyelesaikan polemik tersebut. Gaya mikromanajer idealnya juga selaras dengan visi dan koordinasi yang rapi.
Namun, fakta di lapangan berbanding terbalik yakni ada beberapa menteri yang dinilai mengambil kebijakan keliru, narasi yang berkembang malah karena menteri-menterinya tidak solid disebabkan oleh dua loyalitas kepada Presiden Prabowo, juga kepada “geng Solo” yang merupakan istilah identik dengan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ketidakefektifan mikromanajer yang dilakukan Presiden Prabowo, sebenarnya jika dicermati karena ketidakpekaan Prabowo dengan aspirasi masyarakat. Tak bisa dipungkiri, Presiden Prabowo dekat dengan rakyat, dicintai rakyatnya, tetapi ia berkarakter anomali, titik tekannya adalah terabaikannya aspirasi masyarakat, jika tidak ingin dinilai pengabaian aspirasi masyarakat.
Contoh saja, terjadinya pelaporan para menterinya yang cenderung bersifat ABS, alias ‘asal bapak senang’, malah yang terjadi Prabowo begitu membela para menterinya yang berkinerja tidak optimal, kemudian disampaikan akan menyingkirkan aspirasi publik yang mengkritik keputusan pemerintah dengan narasi akan ditertibkan, dinilai sebagai antek asing, maupun dinilai tidak patriot.
