Setiap harinya, Abdul membawa puluhan potong roti yang dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp 5.000 untuk dua buah. Ia mulai berjualan sejak pukul 08.00 pagi dan biasanya baru pulang sekitar pukul 15.00 sore. Rute yang ditempuhnya cukup jauh, bahkan bisa mencapai puluhan kilometer.
Abdul tinggal bersama istri dan anak semata wayangnya di sebuah kamar kos sederhana di Lorong Tanukila. Meski hidup sederhana, ia tetap merasa bersyukur karena masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kita syukurin saja, masih bisa makan di saat sekarang ini,” ujar Abdul.
Setiap tahun, ia masih menyempatkan pulang ke Jawa, biasanya saat bulan Ramadan dan kembali ke Kendari setelah Idulfitri.
“Orang tua saya masih ada di Jawa, saya kadang pulang pada saat bulan puasa aja dan selesai lebaran baru balik ke Kendari lagi,” katanya.
