Pengamat kawasan, Vali Nasr, menggambarkan latar belakang itu dengan kalimat, "Dia adalah presiden masa perang yang keluar dari konflik dengan keyakinan bahwa Iran rentan dan harus selalu siap menghadapi ancaman," seperti dikutip Al Jazeera.

Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam berkembang menjadi aktor dominan, bukan hanya di bidang militer, tetapi juga politik dan ekonomi. Struktur ini mengelola berbagai sektor strategis; mulai dari energi hingga proyek infrastruktur. Khamenei juga memperkenalkan konsep ekonomi perlawanan untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan menghadapi sanksi Barat.

Namun kebijakan keamanan yang ketat memunculkan kritik di dalam negeri. Penindakan terhadap protes pemilu 2009 serta demonstrasi sosial beberapa tahun terakhir menunjukkan pendekatan negara yang menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama. Nasr menilai dampaknya cukup besar bagi masyarakat.

"Rakyat Iran membayar harga yang terlalu mahal atas penegasan kemerdekaan nasional versi ini," kata Nasr. "Dalam prosesnya, Khamenei kehilangan dukungan sebagian besar masyarakat."

Dalam isu nuklir, Khamenei sempat menyetujui kesepakatan internasional 2015 untuk meredakan sanksi. Tetapi penarikan diri Washington dari perjanjian itu mendorong kembali sikap konfrontatif. Strategi yang ia sebut "bukan damai, bukan perang" diwujudkan melalui penguatan jaringan sekutu regional, dari Lebanon hingga Yaman.