"Kami ingin membentuk siswa yang tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga peduli terhadap sesama. Kegiatan seperti donasi ini melatih empati dan tanggung jawab sosial mereka," kata Nur Aida.
Semangat inklusivitas juga tercermin dalam semua kegiatan keagamaan di sekolah ini. Para siswa non-muslim difasilitasi untuk mengikuti pembinaan keagamaan di ruang terpisah dengan pembina masing-masing pada waktu yang sama.
"Jumat dan Rabu kami jadikan hari keagamaan untuk semua, agar tidak mengganggu pelajaran utama. Semua anak, apa pun agamanya, kami beri ruang untuk tumbuh dalam keimanannya masing-masing," tambah Nur Aida.
Perubahan positif dari pelaksanaan kegiatan keagamaan ini pun mulai terlihat. Siswa menjadi lebih disiplin, lingkungan sekolah terasa lebih religius, dan nilai-nilai moral semakin mengakar dalam perilaku sehari-hari. Penggunaan ciput dan pemakaian jilbab yang lebih rapi oleh siswi pun menjadi simbol kesadaran baru yang tumbuh dari dalam diri mereka sendiri.
"Kami ingin membentuk karakter bukan dengan paksaan, tapi dengan kesadaran. Ketika siswa merasa ini penting, mereka akan melakukannya dengan tulus. Harapan kami, semangat ini tidak berhenti di sekolah, tapi terbawa dalam kehidupan mereka sehari-hari," tutup Nur Aida.
