“Kalau menggunakan tenaga manual, kami harus mencangkul dalam dan membutuhkan beberapa orang. Biayanya juga cukup besar karena harus membayar tenaga kerja harian. Setelah ada cultivator, pekerjaan menjadi lebih cepat dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanyak sebelumnya. Saya bisa mengerjakannya sendiri dengan bantuan mesin, sehingga biaya pengolahan lahan juga lebih ringan,” jelasnya.
Setelah pengolahan tanah, Ibnu melanjutkan pekerjaan dengan membuat bedengan dan saluran drainase, memberikan pupuk awal, serta memasang mulsa. Untuk memenuhi kebutuhan air di bagian atas lahan, ia memanfaatkan air sungai di dekat lokasi dengan bantuan selang.
Hingga panen keempat pada 20 Oktober 2026, hasil yang diperoleh mencapai 110 kilogram. Rinciannya, enam kilogram pada panen pertama, 25 kilogram pada panen kedua, 40 kilogram pada panen ketiga, dan 39 kilogram pada panen keempat.
Proses sejak pembukaan lahan hingga panen pertama membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Hasil panen kemudian dipasarkan kepada pembeli langsung, pedagang, dan pengelola katering perusahaan di sekitar wilayah tersebut.
Permintaan juga datang dari luar Desa Mowundo, termasuk wilayah Asera dan Lasolo. Informasi mengenai hasil panen yang dibagikan keluarganya melalui WhatsApp membantu memperluas jangkauan pemasaran dan mendatangkan pembeli baru.
