Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan masyarakat Bone yang berada di perantauan. Menurutnya, para Passompe dapat mengambil bagian dalam pembangunan daerah melalui berbagai bentuk kontribusi.
“Para Passompe adalah duta-duta Bone di perantauan. Kami berharap mereka tidak hanya sukses di tanah rantau, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perantau adalah kunci percepatan pembangunan di Kabupaten Bone,” ujarnya.
Semangat tersebut sejalan dengan filosofi “Lao Sapa Deceng, Lesu Mappadeceng” yang menjadi salah satu landasan Mannennungeng. Filosofi itu menggambarkan semangat mencari pengalaman dan kebaikan di perantauan untuk kemudian memberikan manfaat bagi daerah asal.
Tokoh adat Bone, Andi Irwansyah, S.Sos., M.M., turut mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Ia menilai inovasi pertanian perlu ditempatkan dalam kerangka keberlanjutan agar manfaatnya dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Sebagai bagian dari masyarakat Bone yang mencintai tanah leluhurnya, kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan adik-adik mahasiswa Universitas Hasanuddin. Program Mannennungeng telah mengingatkan kami bahwa pertanian bukan hanya soal bercocok tanam, tetapi juga soal menjaga warisan dan menjaga generasi,” ujarnya.
