Termasuk untuk yang musim lalu ini, tambah dia, pihaknya bayarkan polis asuransi petani di Koltim seluas 8700 hektar, mulai dari Ladongi, Mowewe, Loea, Tirawuta dan Poli Polia termasuk Labandia.

"Adanya program ini juga membuat biaya produksi petani menjadi menurun, seperti dalam pengolahan sawah saja bisa mencapai 5 sampai 7 juta. Contoh pupuk yang dibeli sudah tergolong mahal baik itu subsidi maupun nonsubsidi. Sementara produk yang kami beri ini lebih ekonomis terlebih lagi ini bahan alami," tambahnya.

Sementara itu, petani yang berada di Kecamatan Ladongi, Jiman menjelaskan, selama mengolah sawah puluhan tahun, ia menggunakan pupuk kimia. Dan hasilnya juga tidak tidak terlalu baik.

Namun, kata Jiman, ketika memakai produk alami ini (pupuk hayati) ia merasa di untungkan, bukan hanya saat mulai tahap awal dalam mengolah sawah tetapi juga harga yang terjangkau bahkan produksi padi juga semakin banyak, biasanya dengan modal 2 juta itu sudah bisa.

"Panen saya meningkat menjadi 9,5 ton setelah menggunakan pupuk hayati cair ini. Padahal biasanya hasil produksi saya paling tinggi 6,5 ton saja," ujar Jiman.