Sukirman mengatakan, jika perencanaan benar-benar berbasis kebutuhan masyarakat, maka warga semestinya dilibatkan sejak tahap awal untuk menentukan pembangunan yang menjadi prioritas.
“Kalau dikatakan perencanaannya bottom-up, tentu kami ingin tahu dari mana usulan itu berasal dan sejauh mana masyarakat Kulati dilibatkan sejak awal. Karena yang kami rasakan, sebagian besar masyarakat tidak pernah diajak membahas rencana jalan baru ini sebelum ditetapkan,” ujarnya.
Menurut Sukirman, apabila sejak awal proses perencanaan benar-benar melibatkan warga Kulati secara luas dan terbuka, maka proyek pembukaan jalur baru Dete-Pantai Huntete kemungkinan besar tidak akan pernah muncul sebagai usulan prioritas pembangunan.
“Selama ini, aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat justru lebih mengarah pada perbaikan jalan yang telah ada dan digunakan masyarakat menuju kawasan Huntete. Karena itu, munculnya proyek jalan baru tersebut menjadi salah satu alasan mengapa warga meragukan klaim bahwa perencanaan dilakukan sepenuhnya dengan pendekatan bottom-up”. tandasnya.
Jalan tersebut selama ini digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan hingga mendukung akses menuju kawasan wisata.
