Tidak hanya Lamaindo saja, namun patung sosok penyebar Islam di Negeri Khalifatulkhamis itu, Syekh Abdul Wahid juga tak luput dari sorotannya. Bagaimana tidak, jika wujud ulama besar itu digambarkan demikian, tak menutup kemungkinan akan dikultuskan oleh sebagian orang.
Dalam catatan sejarah panjang Buton, Syekh Abdul Wahid dikenal sebagai ulama yang berperan penting dalam merubah sistem Pemerintahan Buton dari kerajaan menjadi kesultanan bersama raja keenam sekaligus sultan pertama di Buton, Murhum.
"Dari mana mereka tahu wajahnya Abdul Wahid ini. Nah, bagaimana kalau ada yang mengkultuskan patung ini? tidak boleh begitu Pemda. Harus berpikir dulu sebelum membangun," kesalnya.
Menurutnya, bila ingin membangun wujud tokoh besar, harus dibarengi dengan simbol kebesarannya. Misalnya rencana pembangunan patung pahlawan nasional, Sultan Himayatuddin di Kotamara, Kota Baubau. Dalam perencanaannya, tinggi patung mencapai belasan sampai puluhan meter. Hal itu sesuai dengan filosofis kebesarannya.
"Tapi di Busel ini patungnya kecil sekali seperti tingginya anak TK. Kemudian ornamen pakaian yang digunakan semua modern. Apakah ini bukan sebuah penghinaan?," nilainya.
