Oleh: Efriza
Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus & Owner Penerbitan
PSI, atau singkatan dari Partai Solidaritas Indonesia ditengarai telah kehilangan arah. Kehilangan arah ini tampak dari perilaku beberapa kader PSI berhubungan dengan sikap agresif terhadap Jusuf Kalla (JK).
Ceramah JK di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenai perdamaian, malah dinarasikan oleh dua elite dari kader PSI seperti Ade Armando dan Grace Natalie sebagai upaya merusak citra positif dari JK sebagai tokoh perdamaian dari negeri ini, bahkan ditengarai sekaligus seolah ingin mengabaikan peran JK sebagai tokoh berpengaruh dalam penyelesaian konflik di Aceh, Poso dan Ambon.
Apa yang dilakukan oleh Grace Natalie dan Ade Armando tentu saja blunder, malah merusak citra bagi PSI. Utamanya, posisi elite yang begitu penting di PSI dari Grace Natalie sebagai Sekretaris Dewan Pembina PSI, malah menunjukkan jabatan itu telah dilecehkan oleh perilaku Grace Natalie yang merendahkan JK sekaligus mengabaikan rekam jejak sejarah JK bagi negeri ini. Perilaku Grace Natalie yang selama ini begitu elegan dalam berpolitik, seolah serupa dengan perilaku politik dari Ade Armando sebagai kader dan elite PSI yang penuh kontroversi.
