Baca Juga: Reshuffle, Komunikasi Politik dan Tabrakan Kereta
Ikon Jokowi yang dibangun citranya sebagai sosok sederhana, sosok yang begitu dekat dengan masyarakat, malah menunjukkan berseberangan dengan Jokowi ketika dipersepsikan selayaknya ideologi, tampak nilai kebersamaan partai ini berkonotasi negatif dengan sifat agresif berupa menyerang siapapun tanpa disertai dengan kualitas yang jempolan dari komunikasi politik maupun perilaku politiknya.
Grace Natalie dan Ade Armando telah mempertontonkan PSI dalam berpolitik tidak layak ditiru. Kader-kader PSI hanya pandai menyerang, merespons dengan brutal, terhadap isu-isu yang mendera Jokowi maupun keluarganya. Serangan dalam Kasus JK, sebenarnya adalah kumulatif respons terhadap sikap JK yang berkomunikasi politik untuk kepentingan publik dan negeri dengan langsung menohok terhadap Jokowi sebagai ikon PSI.
JK dalam kadar komunikasi politiknya sangat bernilai tinggi, baik dalam usulan maupun kritik terhadap pemerintah, juga dalam menjelaskan tentang siapa dirinya, perannya, dan kualitas dirinya, misal, ketika ia emosional dengan mengingatkan Jokowi akan peran besar JK untuk perjalanan karir politik Jokowi.
Sayangnya, elite-elite PSI tampaknya tidak berbeda jauh kualitasnya dengan para pendukung Jokowi yang fanatik yang diistilahkan dengan sentimen negatif sebagai “termul” alias Ternak Mulyono; atas kasus komunikasi politik yang bernilai melecehkan JK dalam konten media sosialnya. (*)
