Pabrik dibangun dalam tiga jalur produksi, yakni Line A, Line B, dan Line C. Seluruh fasilitas ditargetkan mencapai tahap first mechanical completion pada akhir 2026.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, mengatakan kedatangan autoclave menjadi simbol kemajuan nyata proyek sekaligus mempertegas komitmen perusahaan dalam menghadirkan hilirisasi mineral yang berkelanjutan.
"Kedatangan autoclave ini merupakan tonggak penting dalam Proyek HPAL Sambalagi. Sebagai jantung dari proses HPAL, autoclave akan memungkinkan pengolahan bijih limonit menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mendukung rantai pasok global kendaraan listrik. Momentum ini mencerminkan komitmen PT Vale bersama para mitra untuk menghadirkan industri pengolahan nikel yang berdaya saing, mengedepankan prinsip keberlanjutan, keselamatan kerja, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan masyarakat di sekitar wilayah operasi," ujar Bernardus, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/7/2026).
Sebagai bagian dari komitmen terhadap operasi yang lebih berkelanjutan, Proyek HPAL Sambalagi mengintegrasikan berbagai solusi rendah karbon dalam desain fasilitasnya.
Kebutuhan listrik operasional akan didukung oleh Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) yang memanfaatkan panas sisa proses produksi untuk menghasilkan listrik secara lebih efisien.
