Ia mengingatkan pemerintah, seperti untuk melakukan evaluasi sebelum dilakukan perpanjangan PPKM Darurat, misalnya. Ia juga mendorong pemerintah dan aparat kepolisian untuk tindak tegas pelaku mafia obat yang menimbun obat-obatan terapi COVID-19 (Telisik.id, 1 Agustus 2021).
Puan saat ini lebih banyak bersuara menggunakan empati dan memahami kondisi dan perasaan rakyat. Inilah sisi positif dari suara Puan yang coba dihadirkannya. Ia menunjukkan sisi sebagai Ketua DPR yang kritis, perempuan yang lebih menggunakan hati dalam berbicara.
Kalimat yang dihadirkannya dalam bersuara bukan dengan nada keras dan kasar untuk pemilihan katanya. Melainkan denan bahasa sederhana, nadanya lembut tetapi menunjukkan kepedulian, serta adanya substansi sebagai mitra pemerintah berupa anjuran, nasihat, dan masukan. Puan sedang mengkritik sebagai sahabat pemerintah, bukan musuh pemerintah.
Apa yang disampaikan Puan bukan bentuk oposisi terhadap pemerintah, melainkan bekerjasama dengan pemerintah, tetapi sebagai mitra yang sedikit kritis. Langkah Puan ini lebih baik dibandingkan dengan yang dilakukan Effendy Simbolon maupun Ribka Tjibtaning.
Misal, Ribka bersuara keras, malah menghasilkan efek hingga kini yakni masyarakat masih banyak yang enggan divaksin. Ribka terkesan “asal bersuara kencang” saja dengan tanpa memilih kata-kata yang tepat, masukan yang bijak, akhirnya ia punya peran atas sikap masyarakat yang tak mempercayai vaksin.
