"Puasa juga dapat menurunkan kadar luteinizing hormone (LH) dan androgen, serta membantu menyeimbangkan hormon estrogen dan progesteron yang dapat memperbaiki siklus menstruasi dan mendukung ovulasi yang lebih teratur," ungkap dr Ganot.
Dampak puasa, kata dia, tidak hanya dirasakan perempuan. Pada pria, perbaikan metabolisme juga berhubungan dengan kualitas hormon testosteron serta pembentukan sel sperma. Ia menyebut pria dengan obesitas, resistensi insulin, atau kadar testosteron rendah berpotensi merasakan perubahan positif selama menjalani puasa, dengan catatan asupan nutrisi tetap dijaga.
"Yang penting adalah menjaga asupan protein, lemak sehat, serta mikronutrien seperti zinc dan vitamin D saat puasa," ujarnya.
Ganot mengingatkan bahwa kebutuhan gizi saat sahur dan berbuka perlu diperhatikan secara seimbang. Kekurangan nutrisi dapat berdampak pada penurunan energi sekaligus memengaruhi kualitas reproduksi.
Karena itu, ia menyarankan konsumsi makanan dengan kandungan protein cukup, lemak sehat, serta vitamin dan mineral esensial.
