Ramadan mengajarkan bahwa nilai sebuah amal tidak hanya diukur dari hasil yang terlihat, tetapi juga dari keikhlasan dalam menjalaninya. Seorang dosen yang tetap mengajar dengan dedikasi meskipun kelas terasa lesu sebenarnya sedang menanamkan pelajaran yang lebih dalam daripada materi kuliah itu sendiri: pelajaran tentang ketekunan, kesabaran, dan tanggung jawab.
Barangkali mahasiswa tidak selalu menyadarinya saat itu. Tetapi suatu hari mereka mungkin akan mengingat bahwa pernah ada seorang dosen yang tetap mengajar dengan penuh kesungguhan, bahkan ketika suasana kelas tidak begitu hidup.
Pada akhirnya, Ramadan mengingatkan kita bahwa dakwah tidak selalu harus lantang. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: seorang pendidik yang tetap menyalakan cahaya ilmu di ruang kelas yang sunyi.
Dan mungkin justru dalam kesunyian itulah nilai pengabdian menemukan maknanya yang paling dalam. (*)
