Di antara barisan yang tumbang, banyak yang adalah pelajar SMP dan SMA yang mendapat giliran start di jam-jam terik dan menjelang malam. Ketahanan fisik mereka terkuras karena harus menunggu lama sebelum berangkat. Penonton di pinggir jalan pun tak luput dari rasa lelah, namun banyak yang tetap bertahan hingga barisan terakhir lewat.

Kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan lain yang mengiringi GJI 2025. Sejak pagi hingga malam, kendaraan mengular di sejumlah titik strategis kota. Aktivitas masyarakat terhambat, termasuk di pusat-pusat perbelanjaan. Beberapa pedagang mengaku mengalami penurunan omzet akibat akses yang sulit.

Dari sisi panitia, membludaknya peserta diakui menjadi penyebab utama molornya jadwal. Idealnya, maksimal hanya 150 barisan yang mengikuti lomba dalam sehari. Tanpa pembatasan jumlah, jalannya lomba menjadi tidak terkendali dan memakan waktu lebih lama dari perkiraan.

Pemerintah kota menyatakan akan melakukan evaluasi total. Perencanaan teknis, pembatasan jumlah peserta, dan penataan rute menjadi fokus pembenahan untuk tahun depan. Tujuannya agar GJI tetap berlangsung meriah tanpa mengorbankan kesehatan peserta dan kenyamanan warga.

Sebagian masyarakat menilai bahwa format GJI saat ini sudah waktunya diperbarui. Kegiatan yang terlalu panjang dan melelahkan dianggap kurang relevan dengan kondisi zaman. Usulan untuk mengganti atau mengombinasikannya dengan konsep karnaval mulai banyak terdengar.