Lebih lanjut, Erwan mengatakan, terkait tuntutan pengusiran Jodico dan Arya dari wilayah Pomalaa yang dianggap sebagai sumber kegaduhan, ia menyebut hal itu merupakan akumulasi dari berbagai keresahan penambang selama ini.

“Mungkin ada perilaku-perilaku yang terakumulasi sehingga muncul kejengkelan. Teman-teman berharap ada sinergi dan kerja sama yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, para penambang berharap para stakeholder di wilayah PT SLG dapat menjadi jembatan komunikasi antara manajemen perusahaan dan penambang di lapangan, sehingga tidak terjadi miskomunikasi.

“Harusnya segala bentuk keluh kesah penambang bisa dijembatani. Informasi dari bawah tersalurkan dengan baik ke atas, dan dari atas juga tersampaikan dengan baik ke penambang. Kalau tidak, akhirnya terjadi miskomunikasi,” pungkas Erwan.

Selain persoalan kenaikan royalti, para penambang juga menyoroti tuntutan terkait pengurusan cargo yang hingga kini belum diselesaikan.