Sayangnya, pelaksanaan ujian seleksi PPPK guru honorer menyulut kegaduhan di ruang publik. Ratusan guru honorer mengepung kolom komentar Instagram Mendikbudristek, Nadiem Makarim. Ribuan komentar tersebut memuat protes keras pada passing grade PPPK guru 2021.
Tingginya nilai passing grade atau nilai ambang batas menyebabkan banyak peserta tidak lolos ujian seleksi. Terutama untuk mereka yang sudah berusia lanjut. Harapan pun kandas, meski sudah sejak lama mendedikasikan diri (Portalsulut.com, 20/9/2021).
Polemik seleksi tes PPPK ini bukan hanya pada nilai ambang batas yang tinggi, tapi juga pada sekelumit keterbatasan yang dimiliki peserta tes. Mereka yang bermukim di pelosok harus menempuh perjalanan berkilo-kilo dengan penuh rintangan.
Pun, tak sedikit dari mereka yang telah berusia lanjut. Ada yang harus dipapah, bahkan tertatih-tatih memasuki ruangan. Sistem ujian berbasis daring pada akhirnya memperparah kondisi mereka yang matanya sudah rabun.
Merespons realitas ini, terbesit tanya, sebenarnya pemerintah serius atau tidak menyejahterakan guru honorer? Alih-alih jadi harapan, PPPK justru memupus niat baik para guru untuk turut mendidik generasi bangsa.
