Baca Juga: Liburan Seru di Ketinggian, Moramo Highland Tawarkan ATV, Flying Fox hingga Villa Nyaman
“Tari ini bercerita tentang pergulatan batin seorang perempuan Wa Ode, antara menghormati tradisi dan keinginan mengejar cita-cita serta cinta di luar batas yang ditentukan adat. Dalam tradisi, Wa Ode tidak bisa menikah jika bukan dengan La Ode. Itu yang ingin saya dobrak,” jelas Wo Ode Nini Bolu, selaku koreografer.
Sebanyak 60 penari dari sanggar tampil selama tiga hari dengan konsep berbeda di tiap harinya: hari pertama menampilkan akar tradisi, hari kedua tari kreasi, dan hari ketiga bertema kontemporer. Acara ini juga menghadirkan para maestro yang pernah berkarya di Yayasan La Ode Umuri Bolu.
Verifikator Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX, Muhammad Aulia Rahmad, memberikan apresiasi atas proses kreatif yang dilakukan yayasan ini.
Baca Juga: Little Bali, Destinasi Wisata yang Tak Boleh Dilewatkan Saat Berkunjung ke Baubau
