“MBG sudah mencapai Rp 75 triliun, itu 22,4 persen dari APBN yang sebesar Rp 335 triliun. Tapi nanti bukan Rp 335 triliun. Ada penghematan tertentu sesuai dengan instruksi Presiden, sehingga dana Badan Gizi Nasional (BGN) bisa dipakai lebih efektif dan efisien,” ujar Purbaya, sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (20/5/2026).
Ia mengungkapkan, pemerintah masih menghitung skema penghematan lanjutan untuk program tersebut. Meski demikian, pengurangan anggaran disebut tidak boleh mengganggu tujuan utama MBG dalam memenuhi kebutuhan pangan siswa sekolah.
“Presiden sedang menghitung bagaimana yang terbaik penghematannya tanpa mengganggu efektivitas program itu sendiri dalam hal memberi makan murid-murid sekolah. Yang penting itu,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Keuangan juga memaparkan perkembangan realisasi APBN hingga akhir April 2026. Belanja negara tercatat tumbuh 34,3 persen dengan nilai mencapai Rp 1.082,8 triliun atau setara 28,2 persen dari target APBN sebesar Rp 3.842,7 triliun.
Belanja pemerintah pusat menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 51,1 persen atau senilai Rp 826 triliun. Pemerintah menyebut strategi percepatan dan pemerataan penyaluran belanja sepanjang tahun menjadi salah satu faktor utama peningkatan tersebut.
