KENDARI, TELISIK.ID – Seringkali perbedaan dianggap sebagai sumber masalah. Sehingga ketika kita memilih menjadi berbeda, kita harus siap menerima konsekuensi yang ada.
Salah satunya adalah mendapat penolakan dari keluarga, sudah pasti menyesakkan dada. Itulah yang dirasakan oleh Lusiana (39), saat dirinya pertama kali menjadi seorang mualaf di tahun 2014.
Lusiana atau kerap disapa Mades, merupakan salah satu warga binaan Lapas Perempuan Kelas III Kendari. Saat dirinya ditemui Telisik.id, ia menjelaskan bahwa dulunya ia beragama Katolik.
Kepercayaannya ini sudah dibawa sejak lahir, sebab kedua orang tua Lusiana adalah seorang Katolik asal Flores dan Toraja yang tinggal dan beranak-pinak di Pomalaa, Kabupaten Kolaka.
“Mama dari Toraja, kalau bapak dari Flores. Mereka beragama Katolik, otomatis kami anak-anaknya juga Katolik,” kisah Lusiana.
