Diusia ke-17 tahun, anak Lusiana yang namanya tidak ingin disebutkan, meminta bantuan kepada salah satu guru di sekolahnya agar diantar ke satu masjid di Kolaka untuk bersyahadat.
Keputusan anak Lusiana membuat keluarganya murka. Sebagai cucu kesayangan, orang tua Lusiana sangat kecewa dan menyayangkan lantaran cucunya itu merupakan salah satu pelayan Pastor di gereja.
“Keluarga marah, terutama mamaku. Beliau kecewa sekali, karena ini anak aktif sekali di gereja. Kalau ada kegiatan ibadah, dia izin dari sekolah karena dia salah satu pelayan Pastor juga,” bebernya.
Satu minggu tak pulang ke rumah, anak Lusiana tinggal di masjid dan belajar agama di sana. Lusiana lalu menjemputnya pulang, dan dibawa ke rumah orang tuanya.
Malangnya, mereka berdua mendapat penolakan dari sang keluarga. Mereka harus mendapat kata-kata yang menyayat hati, bahkan tidak diperbolehkan masuk rumah. Namun Lusiana tetap bersikeras dan pada akhirnya ia bersama anaknya tetap tinggal di rumah orang tuanya.
