Keuntungan tersebut menjadi modal untuk mendirikan CV Sinar Mas pada 1960-an. Awalnya, perusahaan ini bergerak di bidang ekspor-impor hasil bumi dan tekstil. Namun, puncak kesuksesan Sinar Mas bermula ketika Eka masuk ke industri minyak goreng.
Pada 1969, Eka berinvestasi Rp800 juta melalui PT Maskapai Perkebunan Sumcama Padang Halaban. Ia memproduksi minyak goreng bermerek Bimoli, singkatan dari Bitung Manado Oil. Bisnis ini sukses besar dan menjadikan Eka pemain utama di industri sawit.
Dominasi di Industri Sawit
Eka membuka perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau. Perusahaan ini kemudian mengelola 138 ribu hektar perkebunan dan menguasai 60 persen pasar minyak goreng. Bisnisnya semakin berkembang, meski terjadi peralihan kepemilikan beberapa merek.
Bimoli yang semula dimiliki Eka kemudian beralih ke Sudono Salim. Sementara itu, Eka tetap memiliki merek Filma dan Kunci Mas. Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong's Salim Group (2016), Eka menjadi pemain nomor satu sawit.
