JAKARTA, TELISIK.ID - Di tengah udara pengap Jakarta tahun 1998, ruang kerja Presiden B.J. Habibie berubah menjadi pusat kendali darurat ekonomi.
Suara mesin pendingin terdengar samar, sementara layar komputer di hadapannya menampilkan grafik dolar Amerika Serikat yang terus menanjak tajam menembus Rp 16.800.
Ekspresi Habibie tampak tenang, tapi matanya menyiratkan beban berat: sebuah bangsa berada di ambang kehancuran.
Di luar istana, antrean panjang di depan bank sudah menjadi pemandangan harian. Orang-orang membawa tas berisi dokumen rekening, khawatir simpanannya lenyap akibat krisis moneter.
Melansir CNBC Indonesia, Senin (6/10/2025), ketika Soeharto lengser setelah 32 tahun berkuasa, banyak yang mengira penggantinya tidak akan mampu menahan gelombang krisis yang menggulung Asia. Habibie dianggap bukan ekonom, hanya seorang teknokrat pembuat pesawat.
