Dalam waktu sebelas bulan, kita telah menghabiskan seluruh energi, dengan agenda-agenda harian yang telah kita susun. Ritme itu sangat monoton, lebih banyak diantara kita yang memberikan porsi urusan dunia sangat besar, dan porsi untuk mendekatkan diri kepada Allah, sangat kecil.
Nurani ke-Ilahian kita menjadi kering, spiritualisme kita sangat rapuh dan kepribadian kita sangat labil. Justifikasi-justifikasi materi, uang dan posisi sosial, selalu menjadi kecendrungan utama, dan lazimnya kita mengabaikan justifikasi moral untuk mendapatkannya, kita terjebak dengan dominasi dorongan hawa nafsu dan ego.
Baca juga: Hikmah Polemik Kamus Sejarah Indonesia
Sesungguhnya pemilikan harta, uang yang banyak, dan posisi sosial yang tinggi, tidaklah salah dan juga tidak bertentangan dengan ajaran agama yang kita anut, tetapi bagaimana proses mendapatkannya dan kemana pemanfaatannya, serta bagaimana kita menata keseimbangan dengan aspek spiritual dan ukhrawi, adalah poin utama dari penilaian Tuhan.
Tepatnya Tuhan memberi ganjaran atas “proses dan niat”. Untuk itu, dalam bulan suci Ramadan ini, kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk memperbanyak beribadah dan berzikir kepada Allah. Kita menyuburkan spiritualisme kita yang nyaris kering, kita menata dan menemukan resonansi (getaran) dan pancaran sinar ke-Ilahian di dalam dada kita.
