"Mau berbagi air saja perlu pikir panjang. Kebutuhan kami sendiri belum tentu terpenuhi, bagaimana kami bisa membantu orang lain?" ungkapnya.
Di wilayah Abeli sebenarnya terdapat beberapa sungai, namun airnya terlihat keruh dan kotor sehingga tidak layak digunakan untuk mandi maupun dikonsumsi oleh warga.
"Sebenarnya sungai di sini baru saja dikeruk, namun airnya tetap keruh dan kotor. Mustahil bagi warga untuk menggunakannya," ujar Endang.
Ia mengakui bantuan distribusi air bersih dari berbagai pihak sudah berdatangan, termasuk dari anggota DPRD, Pemerintah Kota Kendari, dan juga bertepatan dengan peringatan HUT Polwan.
Namun, jumlah warga yang membutuhkan sangat besar, dari total 743 KK di Kelurahan Abeli, tercatat lebih dari 400 KK kini dilanda krisis air bersih.
