“Mengangkat tandu itu berat, tapi karena kerja sama dan kekompakan teman-teman, semuanya terasa ringan. Rasanya haru dan bangga bisa ikut dalam pertunjukan bermakna ini,” tuturnya.

Dari sisi penonton, apresiasi datang silih berganti. Astrid, salah satu warga Kendari, menilai pertunjukan tersebut memberi pengalaman emosional yang jarang ditemui.  

“Mereka luar biasa. Setiap gerakan terasa hidup, seolah benar-benar membawa kita ke masa kejayaan Buton,” katanya.

Tari kolosal Sila Islam di Buton menggambarkan bagaimana Islam diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Buton, yang kala itu dipimpin Sultan Murhum.

Baca Juga:  Konawe Disiapkan Jadi Kota Industri, 50 Kota RI Prioritas Fokus Proyek PU 2025-2029