Cerita tersebut divisualisasikan lewat adegan-adegan simbolik, seperti pertemuan utusan dari tanah seberang, penyambutan oleh rakyat Buton, hingga peneguhan nilai-nilai Islam dalam pemerintahan kerajaan.
Pantauan telisik.id di lokasi, pertunjukan ini juga sejalan dengan tema besar STQH Nasional ke-28, Siar Al-Qur’an dan Hadis Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan.
Lewat tarian, pesan keagamaan dan sejarah lokal berpadu menjadi bentuk pelestarian budaya yang bermakna.
Malam itu, panggung bukan sekadar ruang hiburan, melainkan saksi bagaimana generasi muda Sulawesi Tenggara memaknai sejarah.
Melalui gerak yang tertata dan semangat yang menyatu, mereka berhasil menjadikan seni sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini, sebuah cara sederhana untuk menjaga warisan Buton agar tetap hidup dalam ingatan. (A)
