Fase Ketiga (2002-2007): Lahirnya organisasi Angkatan Muda Buton (AMB) yang mensinergikan Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau, membentuk KMP3 Buton Raya, hingga ditandatanganinya naskah deklarasi oleh Bupati dan Ketua DPRD pada Seminar Kebudayaan 2007.

Fase Keempat: Terbentuknya ide Provinsi Sulawesi Tenggara Kepulauan oleh Gubernur Sultra saat itu (Drs. H. La Ode Kaimudin) yang melahirkan Tim 9, meski akhirnya tidak berlanjut karena kurangnya dukungan mayoritas.

Fase Kelima: Pengajuan Daerah Persiapan Otonomi Baru (DPOB) Buton Raya mendapat sokongan penuh dari Gubernur Sultra (H. Nur Alam, SE) dan disetujui oleh DPRD Provinsi. Fase Keenam (2021): Terbentuknya Sekretariat Bersama (Sekber) melalui SK Gubernur Sultra Nomor 354 Tahun 2021, serta disampaikannya usulan resmi Pemerintah Provinsi ke Komisi II DPR-RI.

Terlepas dari mungkin masih ada fase perjuangan yang tidak disebutkan oleh penulis, nama tokoh maupun kelompok penginisiasi dan peran-peran dari setiap generasi Buton yang telah berjuang untuk menjadikan Buton sebagai DPOB, namun memori kolektif orang Buton telah mencatat bahwa kami telah berjuang 74 tahun. Betapa sulitnya memperjuangkan wilayah eks Kesultanan Buton untuk memperoleh legitimasi dari NKRI tercinta guna menjadi sebuah provinsi yang otonom.

Jika satu generasi dihitung dari usia manusia dengan rerata 60 tahun, maka perjuangan masyarakat Buton untuk menjadi sebuah DPOB telah memasuki 2 generasi atau 74 tahun. Suatu waktu yang sangat panjang, bahkan lebih alot dari perjuangan kemerdekaan Indonesia yang hanya memerlukan waktu 37 tahun jika tahun 1908 (Budi Utomo) dijadikan patokan awal.