Warisan sejarah yang masih tampak jelas seperti kawasan cagar budaya Benteng Keraton Buton dan ratusan situs benteng lainnya yang tersebar dibekas wilayah Kesultanan Buton—bukan sekadar monumen romantisme masa lalu. Semuanya merupakan fondasi untuk membangun identitas kewilayahan di masa depan.

Kepulauan Buton dapat memproyeksikan tata ruangnya dengan memadukan pelestarian sejarah, infrastruktur, lanskap pesisir dan laut yang luas tanpa kehilangan akar tradisinya. Menilik dari prespektif ketatanegaraan, kewilayahan, dan kesiapan tata ruang, Buton sesungguhnya lebih siap menjadi daerah otonom dibandingkan beberapa provinsi lain yang telah mekar.

Menjawab pertanyaan apakah masyarakat Buton terlalu santun dalam memperjuangkan daerahnya untuk menjadi sebuah provinsi yang otonom? falsafah Buton memang menanamkan mindset untuk berpikir akademis dan mendahulukan dialog.

Sikap menghargai pemimpin dan menjaga persahabatan telah terpatri lama, dan itu semua tecermin dalam falsafah Bholimo arataa somanamo karo, Bholimo Karo Somanamo Lipu, Bholimo lipu somanamo sara, dan Bholimo Sara Somanamo Agama.

Namun demikian, masyarakat Buton tidak berarti bahwa tidak memiliki sikap heroik. Keberhasilan mereka mengusir Bajak Laut La Bolontio, bajak laut Sanggila, dan Tobelo merupakan bukti sejarah untuk hal dimaksud. Masyarakat atau orang Buton secara genetis-kultural memiliki darah heroisme yang diwariskan oleh Pahlawan Nasional La Karambau atau Oputa Yikoo, serta rekam jejak panjang menaklukkan lautan dan bertahan hidup di tengah badai samudra.