Ia juga kerap dilibatkan dalam urusan krusial pemilu, termasuk menjadi Tim Seleksi penyelenggara ad-hoc (Panwas/Bawaslu) di berbagai kabupaten/kota di Sultra.
Satu hal yang membedakan Nasir dari kebanyakan jurnalis adalah produktivitasnya dalam mendokumentasikan literasi pembangunan daerah. Hingga pertengahan 2025, ia telah menyunting dan menulis sebanyak 47 judul buku.
Karya-karyanya mayoritas memotret profil kepemimpinan daerah, biografi tokoh Sultra, rekam jejak parlemen, hingga potensi pariwisata lokal seperti buku 20 Destinasi Wisata Unggulan Sultra (2025).
Kemampuan kepemimpinannya juga ditempa melalui berbagai organisasi lintas sektor. Tercatat, ia pernah memimpin Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari (2005–2007), aktif sebagai Pengurus KAHMI Sultra, Wakil Ketua KNPI Sultra, Wakil Ketua Pemuda Pancasila Sultra, hingga jajaran kepengurusan LTN-NU Sulawesi Tenggara.
Melalui kombinasi peran sebagai akademisi, jurnalis, periset, dan penulis buku, Nasir terus membuktikan diri sebagai salah satu intelektual organik yang konsisten mengawal arus informasi dan demokrasi di Sultra.
