Kadek Dwi tampil dominan sejak lemparan pertama. Ia langsung membukukan 46,79 meter, lalu meningkat menjadi 47,17 meter pada percobaan kedua. Puncaknya terjadi pada lemparan ketiga ketika cakram yang ia lepaskan mendarat di angka 49,75 meter. Catatan itu mempertajam rekor dunia 48,68 meter miliknya sendiri yang ia ciptakan pada kejuaraan dunia di Tlaxcala, Meksiko, 22 Juli 2026.
Pada tiga kesempatan berikutnya, Kadek Dwi masih mencatat 49,71 meter, 49,46 meter, dan 43,67 meter. Rangkaian lemparan tersebut sudah cukup untuk mengungguli para pesaingnya. Wakil Uzbekistan, Yorkinbek Odilov, harus puas dengan perak setelah mencatat 45,10 meter, sedangkan wakil Irak, Hussein Khazaee, meraih perunggu dengan 45,06 meter.
Selain rekor dunia, lemparan 49,75 meter itu juga menggeser rekor Asian Para Games. Rekor sebelumnya dipegang atlet China, Guo Shan Wu, dengan jarak 47,77 meter. Emas ini menjadi yang pertama bagi Indonesia dari cabang para atletik pada edisi kali ini sekaligus emas kedua kontingen Merah Putih secara keseluruhan.
"Medali ini saya persembahkan untuk ibu dan bapak saya," kata Kadek Dwi sambil mengusap air matanya usai pertandingan.
Di balik rekor dunia itu tersimpan kisah haru. Kadek Dwi berangkat ke Nagoya dalam keadaan berduka karena sang ayah meninggal dunia belum lama ini. Ia sempat pulang ke Bali sebelum kembali ke Solo dan bertolak ke Jepang bersama kontingen. Meski datang dengan status pemegang rekor dunia, ia mengaku tidak terbebani dan menyebut lemparannya di sesi latihan sempat menembus lebih dari 50 meter.
