Relawan dan Kader Partai

Fenomena relawan Jokowi sejak di Pilkada hingga dua kali Pilpres yang solid mendukung dan memenangkan Jokowi, pada dasarnya menimbulkan kejengkelan di hati para kader PDI Perjuangan. Kader partai selalu diibaratkan mesin partai, mereka yang berjuang di lapangan dengan membawa citra partai. Tetapi kader partai, harus diakui sulit menembus wilayah-wilayah yang memang telah dikuasai oleh partai-partai lain.

Sedangkan relawan politik ini, acapkali disebut simpatisan. Mereka adalah masyarakat umum yang tidak terafiliasi pada salah satu partai politik tetapi tergerak untuk mendukung partai atau bakal calon yang dipandang menyuarakan aspirasi masyarakat.  

Munculnya relawan dianggap berdasarkan budaya masyarakat yang bersifat gotong royong, pengejawantahan nilai kemanusiaan itu sendiri, (Kirstin Samah dan Fransisca Ria Susanti, 2011, xxiv). Sayangnya, awalnya relawan dianggap lahir dari semangat kemanusiaan, secara sukarela, tetapi fenomena relawan politik tentu saja ada pamrihnya.  

Relawan tentu lebih dapat diterima oleh masyarakat. Mereka kerap dianggap merupakan kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Sehingga, sekat-sekat wilayah yang tak bisa ditembus oleh para kader partai, bisa dilakukan oleh relawan.