Namun sayangnya, kehadiran relawan politik ini malah menunjukkan bahwa partai politik di Indonesia sedang mengalami kemerosotan kepercayaan di tingkat masyarakat.
Masyarakat di era reformasi ini kecenderungan terbesar tidak terafiliasi oleh partai politik, bahkan masyarakat lebih memilih sosok kandidat dibandingkan partai politik. Lihat saja, fenomena keterpilihan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jokowi, maupun Anies Baswedan, suatu pembuktian sosok kandidat lebih penting daripada partai politiknya.
Meski demikian, kehadiran relawan, tidak sepenuhnya menunjukkan keberpihakan kader-kader partai terhadap kehadiran mereka. Apalagi jasa kader-kader partai yang turut hadir membesarkan sosok kandidat, mengusung kandidat, berpeluh keringat menemani kandidat dalam kampanye sebagai mesin partai, bahkan turut hadir langsung sebagai bagian yang sah dalam mengawal perolehan suara di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS), kader partai dianggap bagai angin lalu ketika kandidat terpilih.
Penafsiran ini bisa kita lihat, apakah dalam pembagian jabatan ala Presiden Jokowi, ada nama-nama dari pengurus tingkat masyarakat dari partai politik, seperti dari tingkat DPC.
Nyatanya memang nihil, bahkan diragukan akan tiba-tiba namanya menduduki kursi komisaris. Ini bukan soal semata karena keputusan di tingkat DPP, tetapi merawat relawan dianggap lebih penting dibandingkan mengingat jasa kawan sendiri yang pasti akan selalu mendukungnya.
