Sebagian umat Islam pada pemerintahan dinasti Umayyah merasa tidak puas dengan cara Yazid memimpin, yang kemudian mengharapkan agar Husen mengambil alih tampuk khalifah di masa itu. Yazid yang merasa sah sebagai khalifah melihatnya sebagai upaya kudeta.
Merasakan ketidakberesan wilayah kekuasaannya, Yazid bin Muawiyah yang berkedudukan di Damaskus mulai memata-matai pergerakan Husen yang saat itu berada di Madinah. Alhasil, karena merasa tidak aman, Husen lantas pindah ke Mekkah.
Baca Juga: Penghalang Seorang Hamba dengan Allah Taala
Penduduk Kufah yang kian tidak puas dengan dinasti Umayyah meminta Husen bertolak ke Kufah, dengan jaminan sekitar 100.000 penduduk Kufah siap menyambut kedatangannya. Yazid bin Muawiyah kian waspada. Ia lantas mengganti kepala daerah Kufah, yang sebelumnya dipegang oleh Nu'man bin Bisyr dengan Ubaidillah bin Ziyad.
Setelah dua utusan Husen bin Ali dibunuh: Muslim bin ‘Aqil dan Qeis bin Mashar As-Saidawiy, hal itu tidak juga mengendurkan keinginan Husen untuk berangkat ke Kufah. Akhirnya, penduduk Makkah terpaksa melepas Husein dan rombongannya berangkat menuju Kufah pada 18 Zulhijah tahun ke-60 Hijriyah.
