"Harus dipecat. Itu menormalisasi teror pada pers," ujar Guntur.

Ia menegaskan bahwa teror terhadap jurnalis tidak bisa dijadikan bahan candaan atau gurauan oleh pihak di luar korban langsung. Bila itu terjadi, menurutnya, justru memperkuat normalisasi terhadap kekerasan pada kebebasan pers.

"Yang bisa bergurau untuk mengatakan tidak takut pada teror, yakni korban yang jadi sasaran. Kalau pihak lain ikut-ikut bergurau artinya dia menormalisasi teror pada pers," kata Guntur.

Selain isu komunikasi, Guntur juga menyoroti persoalan di sektor ekonomi. Nilai tukar rupiah yang terus melemah serta indeks harga saham gabungan (IHSG) yang anjlok disebut-sebut menjadi indikator buruknya performa ekonomi nasional dalam beberapa bulan terakhir.

Ia menyampaikan bahwa kondisi ekonomi tersebut semestinya menjadi alasan kuat bagi Presiden Prabowo untuk mengevaluasi tim ekonomi di kabinet. Ketidakstabilan pasar dinilai memengaruhi kepercayaan pelaku usaha dan investor.