Tapi harapan Jepang itu jauh dari tujuan para pendiri Masyumi. Para pendiri Masyumi, yang terdiri atas KH Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, Kartosoewirjo, dan lainnya, justru ingin menghadirkan semangat Islam untuk berperang merebut kemerdekaan.

Kemudian, para pendiri Masyumi bersepakat menjadikan organisasi ini sebagai partai politik. Partai ini dideklarasikan pada 7 November 1945. Ketua pertama saat itu adalah Sukiman Wirdjosandjojo. Sedangkan Kartosoewirjo menjadi sekretaris pertama.

Sementara itu, dikutip dari buku 'Meninjau Sejarah Kisah Hidup Muhammad Natsir' yang ditulis oleh Jarudin, tujuan partai ini adalah untuk terlaksananya ajaran dan hukum Islam di dalam kehidupan perseorangan, masyarakat, dan negara republik Indonesia menuju keridaan ilahi.

Baca juga: Kunjungi 140 Titik, Kemenangan NKRI Semakin Dekat

Sayangnya, tujuan Masyumi ini sukar tercapai. Menjelang Pemilu 1955, suara umat Islam terpecah. Ada kelompok-kelompok yang keluar dari Masyumi dan mendirikan partai sendiri. Beberapa di antaranya Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan Nahdlatul Ulama (NU).