"Program MBKM ini paling tidak menyentuh dua program utama kita yang pertama adalah digitalisasi dan internasionalisasi. Pada aspek digitalnya tentu ditekankan dalam proses pembelajaran tidak menutup kemungkinan dilaksanakan secara daring atau hybrid," katanya.

"Jika dilaksanakan secara daring tentu perangkat software dan hardware mesti disiapkan," tambahnya.

Sedangkan, kata dia, aspek internasionalisasinya tidak menutup kemungkinan akan melibatkan dosen dan mahasiswa yang berasal dari Asia Tenggara, Eropa, Australia maupun Amerika.

Prof. Husain juga menyambut baik dan mengapresiasi langkah yang dilakukan hari ini. Sebab program MBKM sangat baik sehingga terus didorong implementasinya oleh Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan.

"MBKM ini menghasilkan mahasiswa yang memiliki multi kompetensi. Misalnya hafidz yang bisa mengajar biologi sekaligus menjalankan bisnis ekonomi, tentu ini sangat luar biasa," ucapnya.