Partai-partai juga cenderung akan mengabaikan membangun identitas kepartaian karena semangatnya hanya kepentingan kekuasaan semata, ideologi lagi-lagi hanya hiasan belaka tanpa bisa diterjemahkan dalam bentuk visi-misi dan program partai, tawaran preferensi kebijakan instan yang dipilih untuk disampaikan ke konstituen tanpa berbasis nyata untuk dapat diproses dan diwujudkan.
Kecenderungan memikirkan pasar politik elektoral memaksa partai-partai memasang calon yang memang populer dengan mengabaikan memberi kesempatan besar kepada kadernya. Padahal kadernya yang semestinya didorong untuk menjadi wakil rakyat, karena mereka telah berkeringat sejak lama membesarkan partai.
Pola jenjang pengkaderan seketika ‘terbang’ tertiup angin tatkala memasuki perhelatan pemilu untuk kepentingan memenangkan elektoral semata.
Kecenderungan terjadi nomadisme politik (politisi kutu loncat) juga dilakukan oleh anggota-anggota partai di parlemen. Perpindahan wakil rakyat ke partai lain tak bisa dihindari.
Terjadinya eksodus wakil rakyat makin kentara dan meningkat beriringan dengan kenaikan-kenaikan ambang batas parlemen. Inilah yang terjadi ketika tujuan pemilu, hanya diterjemahkan sebagai memperoleh wakil-wakil rakyat dan menjadi wakil rakyat kembali.
