Kedua model kekuatan keluarga (familiy primacy model), sepanjang tahun 50-an hingga awal 60-an mayoritas studi tentang sosialisasi politik menunjukkan bahwa pengaruh keluarga menyentuh semua aspek-aspek lain dari proses sosialisasi yaitu: teman sebaya, pendidikan, status sosial, jenis kelamin, umur, dan persepsi yang keseluruhannya bagaikan berbentuk lingkaran yang di tengah-tengahnya terdapat keluarga.

Studi tentang agen sosialisasi politik menunjukkan bahwa keluargalah yang menjadi faktor dominan yang membentuk arah dan derajat pengaruh terhadap perilaku politik.

Oleh sebab itu, dinamika yang terjadi pada dua partai saat ini dan kemungkinan besar akan terjadi pada partai lain, sebaiknya diselesaikan dengan pendekatan organisasi dan juga diputuskan secara organisasi sehingga masyarakat akan semakin simpati dengan partai karena salah satu fungsi partai adalah rekruitmen politik yang melalui jalan pengkaderan. Lalu apa jadinya partai kalau tidak lagi yang mau berpartai. (*)