Ia menambahkan pelestarian adat dan budaya lokal dinilai memegang peran penting dalam menjaga marwah daerah di tengah arus modernisasi.

"Ritual Adat Tuturangi Andala dan Poagona Lipu kembali digelar di Pulau Makasar tujuannya untuk menjaga marwah dan warisan leluhur di era modernisasi," ujarnya Kamis, (29/10/2026).

Menyikapi antusiasme masyarakat Pulau Makasar, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Baubau, Idrus Taufiq Saidi, menurutnya sekian lama vakum dalam pandangan pemerintah, hari ini masyarakat Pulau Makassar kembali termotivasi, dilembagakan, serta berkolaborasi dengan berbagai komponen stakeholder.

Terlebih, wilayah Pulau Makassar memiliki karakteristik pinggiran yang perlu mendapat perhatian khusus agar terhindar dari abrasi laut, terjangan gelombang utara, serta terjaganya situs-situs adat yang ada.

Ia menilai, fenomena ini menandakan bahwa penegakan jaga marwah negeri jauh lebih penting dibandingkan kegiatan lainnya. Meskipun di dalam pelaksanaannya terdapat unsur spiritual seperti berdoa, memohon restu, serta mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan hidayah hal tersebut memiliki nilai yang mendalam.