"Begitu terbelah, ketupat tetap bersatu, seperti hubungan antara manusia dan Tuhan yang tidak terpisahkan," ujar La Boti kepada telisik.id, Minggu (16/2/2025).

Selama jalannya prosesi, para tamu undangan turut dalam pertunjukan tarian daerah secara bergantian. Tamu yang diajak menari diwajibkan untuk ikut serta, tanpa dapat menolak.

Ritual ini bukan hanya sekadar wujud syukur kepada Tuhan, tetapi juga menandakan penyimpanan alat musik tradisional seperti gendang dan gong di rumah tetua adat.

Tarian yang ditampilkan selama acara meliputi tarian Linda, Mangaru, dan Batanda, yang disambut dengan antusiasme tinggi oleh warga setempat maupun pelancong.

Kepala Dinas Kebudayaan Buton Selatan, La Ode Haerudin, menyebutkan bahwa ritual Mata'ano Galampa telah resmi terdaftar dengan sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) pada Desember 2024.