Dalam ritual ini, suku Merina menggali kembali sisa-sisa leluhur mereka untuk merayakan sekaligus berkumpul bersama keluarga. Ritual sakral ini terjadi setiap lima hingga tujuh tahun. Para kerabat yang telah meninggal dikeluarkan dari makam leluhur dengan penuh kehati-hatian. Anggota keluarga yang masih hidup memperbarui pakaian jenazah dan melilitnya dengan kain sutra baru. Perayaan dimulai, di mana para tamu berkumpul untuk minum, bercengkrama, dan menari bersama leluhur mereka.

Baca Juga: Dipercaya jadi Metode Penyembuhan Anak, Warga Muna Lakukan Tradisi Kapobhelo

Saat matahari hampir terbenam, mayat-mayat itu dengan penuh kehati-hatian kembali ditempatkan ke dalam makam dan dibalikkan. Ruang bawah tanah kemudian ditutup kembali selama lima sampai tujuh tahun ke depan. Meskipun banyak kelompok etnis di Madagaskar yang memadukan agama Kristen dengan kepercayaan tradisional, mereka tidak mempercayai konsep surga atau neraka.

"Kematian setelah tulang membusuk akan membawa ke kehidupan kedua—kehidupan yang serupa dengan kehidupan (akhirat)," jelas Mamphionona seperti dikutip dari CNN.

Bagi kepercayaan suku Merina, orang yang telah meninggal tidak mengalihkan diri ke kehidupan berikutnya, melainkan tetap berada di dunia orang hidup hingga tubuh mereka benar-benar terurai. Maka, ritual Famidihana ini dilakukan untuk mempercepat proses pembusukan jasad.